The Day After Tomorrow
12 05 2008Please tell me why do birds,
sing when you’re near me,
sing when you’re close to me
They say that I’m a fool,
for loving you deeply,
loving you secretly
But I crash in my mind,
whenever you are near
Getting deaf, dumb and blind
Just drowning in despair
I am lost in you’re flame
It’s burning like the sun
And I call out your name
Whenever you are gonePlease tell me why can’t I,
breathe when you’re near me,
breathe when your close to me
I know you know I’m lost
in loving you deeply,
loving you secretly… secretlyTomorrow, I’ll say it all tomorrow
Or the day after tomorrow
I’m sure I’ll tell you then
Lagu kenangan.. hu’uh.. The Day After Tomorrow yang dibawain oleh Saybia. Lagu ini punya artian tersendiri dalam diri saya. Sebenarnya ada beberapa lagu yang “mengena” dengan kehidupan saya dan saya jadikan sebagai lagu “wajib dengar” kalau saya sedang stress atau dilanda tekanan masalah. Lagu ini saya dengar sewaktu saya kuliah D3 dulu di Medan. Ada seorang secret admirer
yang menghadiahi saya sebuah CD Saybia waktu umur saya genap 21 tahun.
Usut punya usut, ternyata doi emang udah lama suka memperhatikan tingkah laku saya. Rasa kekagumannya terhadap saya diawali dari pentas seni di kampus dulu. Waktu itu saya ikutan nge-band gitu bareng teman-teman 1 kelas. Bawain lagu Saybia yang judulnya The Second You Sleep. Emang gak menang sih, tapi band saya lumayan dapat simpatik dari teman-teman yang lain. Hahaha.. banyak yang bilang suara saya bagus, dan saya cocok jadi penyanyi. Hikz.. suara becek gini dibilangin bagus :(. Well, kita lupakan masa lalu yang penuh cinta itu. Saya disini hanya ingin menerangkan; apa arti lagu ini buat saya. Dan ternyata, lagu ini sebenarnya kesukaan my secret admirer yang menghadiahi saya CS Saybia dulu.
Jadi ceritanya begini, minggu lalu kan saya pulang kampung nih ke Medan. Nah.. usai acara ini, saya jalan-jalan sendiri ke depan kampus. Berharap masih bisa nemuin wajah-wajah lama yang dulu saya kenal. Ternyata tidak ada 1 wajahpun yang saya kenal. Semua wajah-wajah baru dengan sifat dan karakter yang baru pula. Perhentian langkah kaki saya tepat jam 12.30 siang di sebuah warung makan yang kecil ternyata membuahkan hasil. Agak terkejut juga, lagi santai “nenggak” es teh manis sembari nunggu nasi yang dipesan datang, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak saya dari belakang dan berkata “Hei..!” spontan saya terkejut. Lebih terkejutnya gitu menoleh, sosok yang saya dapati adalah orang yang dulu saya kenal. Orang yang saya anggap sebagai teman biasa, meski saya tahu; doi punya perasaan spesial ke saya waktu itu
Perbincangan panjang dimulai. Mulai dari kerjaan, kabar teman-teman kuliah dulu sampai status juga dibahas :D. “Dave, aku yang bayar ya.. soalnya hari ini aku lagi senang” senyum manis doi menggenapi nikmat yang kudapat setelah makan. “Gpp, biar aku aja yang bayar” pembelaan harga diri saya sebagai laki-laki saat itu. Cuma doi ngotot maksa.. akhirnya saya setuju setelah dengar alasan bahwa doi ulang tahun hari itu. Hu`uh.. umur yang cukup dewasa menurut saya bagi seorang wanita untuk menikah. 25 tahun, cantik, pintar.. juga punya kerjaan dan masa depan yang lumayan menjanjikan menurut saya.
Setelah makan, saya diajak ke kost doi. Doi banyak curhat masalah kerjaan, orang tua yang maksa doi agar buru-buru menikah.. sampe masalah pacar juga di ceritain. Gak nanggung-nanggung hihihi. Berhubung doi ulang tahun, saya bilang ke doi; kalau saya ingin memberikan kado ulang tahun nanti sore. Dan itupun harus pamit jalan keluar dulu untuk beliin kadonya. Cuma doi melarang, doi bilang kado gak perlu. Yang penting doa dan sikap saya ke doi. Awalnya saya merasa gak gitu nyaman dengan rasa keberatan doi menolak tawarn kado dari saya. Sampai pada waktu doi minta kado spesial yang nggak harus dibeli kepada saya. “Emang kado apa yang gak dibeli ??” dengan santai dia menjawab “Aku mau kamu nyanyiin lagu saybia aja untuk hadiah ulang tahunku” pintanya manja sembari meledek. “Serius ?? yakin cuma itu ??” sadar diri kalau cuma nyanyiin lagu Saybia mah mudah bener :D. Doi memastikan kalau doi cuma butuh dan ingin lagu itu untuk saat ini. Al-hasil, dengan susah payah doi ke kost tetangganya nyariin sesuatu bernama gitar.
Gitar didapat, babak klimaks segera dimulai. “The Second You Sleep ??” tanyaku. “Hop nop… hihihih The Day After Tomorrow” jawabnya. “Waduh.. chord nya gk pernah nyari….” lanjutku. “Gpp, chordnya aku yang kasih tau” panjangnya. Selang beberapa menit mencoba menyesuaikan chord lagu dengan nada dasar, akhirnya saya merasa siap untuk menyanyikan lagu itu. Hapal sih syairnya, kendala utama memang di bagian chord lagu saja. Soalnya nggak pernah coba nyari chord lagu itu. “Sebelum aku nyanyi, kenapa harus The Day After Tomorrow ?” lanjutku meminta kepastian. “Anggap aja lagu itu dari aku buat kamu dave, dari dulu aku sering ngebayangin kamu nyanyiin lagu itu untuk aku, cuma gak pernah kesampaian. Gpp kan kalau kali ini kamu menghadiahiku impian yang nyata ?” jelasnya. Sekarang saya mengerti. This’s time to show up…!!
Hari yang special kini terlewati. Tapi entah kenapa, lagu itu terus terngiang dalam genderang telinga saya. Lagu yang tulus dan jujur. Terlihat mewah karena dilapisi oleh idiom berupa syair prosa. Menggenapkan segala perasaan yang ada dalam hati si penyanyi. Sekarang ngerti deh, gimana perasaan doi ke saya waktu masa kuliah dulu. Ternyata oh ternyata..
ceritakan padaku mengapa burung,
bernyanyi saat kau didekatku,
bernyanyi bila kau begitu dekat denganku
mereka bilang bahwa akulah si bodoh itu,
yang mencintaimu dengan sangat
yang mencintaimu dengan diam-diamnamun kutepis pikiranku kapanpun kamu mendekat,
seolah tuli, bisu dan buta
hanya menutupi keputus asaan
aku hilang dalam pesonamu
layaknya terbakar matahari
dan kuteriakkan namamu
sesaat sebelum kau pergiceritakan padaku kenapa aku tak bisa
bernafas bila kau di dekatku
bernafas bila kau begitu dekat denganku
ku tahu kau pikir aku salah
mencintaimu dengan sangat
mencintaimu dengan diam-diambesok, akan kukatakan semua ini
atau lusa
pu haba syedara?