JALAN BUNTU DAN TAK BERUJUNG

11 05 2008

Sekedar Catatan Kegelisahan

Harapan itu kadang berwujud srigala. Menakutkan. Pernahkah anda menghadapi dua jalan yang bercabang? Lantas anda bingung menentukan kemana kaki anda akan melangkah? Dunia ini terlalu mudah bagi mereka yang ditangannya kekuasaan, hukum dan perempuan bisa tunduk. Tapi laki-laki seperti saya adalah laki-laki tanpa bekal apa pun; kecuali hati. “Tapi apakah hati bisa berkuasa ?” Masih butuh pembuktian tentunya.

Oh ya, kembali pada masalah awal. Di hadapan saya kini dua jalan terbentang, dan tentu saja sangat menantang. Tapi kemana saya harus membawa hati, satu-satunya bekal yang saya punya agar bisa membuktikan bahwa hati pun bisa berkuasa dalam rimba; bernama hidup.

Oke, saya jelaskan satu-satu. Jalan pertama adalah jalan yang memang tengah saya rintis, tapi saya muak di tengah jalan dan memutuskan tidak berjalan lagi sampai datangnya sesuatu yang akan mendorong saya untuk berjalan. Sesuatu itu pun belum jelas berbentuk apa. Jalan pertama itu adalah rencana kuliah S2 saya di sebuah universitas negeri Jerman. Sayangnya, setelah saya mengikuti S2 itu, saya harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa saya harus menjadi seorang Police Cyber. Memuakkan bukan ? Sangat memuakkan jika anda pernah atau tengah menjadi bagian di dalamnya. Setiap hari saya bergelut bersama ribuan kejahatan, ribuan virus, ribuan software, ribuan aplikasi, ribuan script, ribuan penipuan. Bagi anda kegiatan hacking, cracking atau cybercrimes lainnya mungkin sangat menarik, bahkan terkesan menjadi kewajiban untuk bisa bersaing dalam dunia era digital saat ini. Tapi saya ? Bisa anda bayangkan sendirilah kalau setiap saat hanya itu saja yang anda geluti, anda pun akan bosan dan muak, lantas mungkin membakar semua perihperals seperti PC/laptop/partisi external dan sebagainya sambil memaki.

Jalan kedua adalah pekerjaan. Saya ditawari pekerjaan yang membuat adrenalin saya terpacu. Menjadi wartawan. Ya, bukankah itu impian saya? Menjadi wartawan sebuah Koran di Jakarta. Saya tertantang untuk memasuki dunia ini. Jurnalistik. Tapi apakah saya mampu ? Itu masih tanda tanda tanya besar memang, dan semua itu akan terjawab seiring dengan waktu.

Lantas masalahnya dimana ? Masalahnya terletak pada, apakah saya akan pergi ke Jakarta dan meninggalkan impian kuliah S2 di Jerman ? Atau berpijak pada tujuan awal, bekerja ? Kalau dua pertanyaan itu diajukan pada saya, tentu saya akan menjawab pergi ke Jakarta. Tapi bagaimana dengan keluarga saya ? Mereka akan berpikir saya adalah anak tak berbakti karena lari dari tanggung jawab sebagai anak. Keluarga besar saya punya kepercayaan bahwa anak-anaknya haruslah mencapai taraf pendidikan minimal S2. Apalagi saya yang terlahir sebagai laki-laki. Pendidikan adalah hal utama dan pertama.

Semuanya menjadi begitu sulit. Dan inilah awal bencana itu. Setelah sekian lama saya mengikuti kehendak keluarga untuk kuliah (karena sejak awal saya memang sudah tidak tertarik), akhirnya saya khianati juga mereka. Diam-diam saya pergi. Menuju tempat ketika semuanya harus kembali menjadi nol lagi; Jakarta.

Apa yang terjadi di kota ini? Tak ada, selain bahwa saya bekerja itu lebih sulit daripada kuliah. Dan bekerja itu lebih menyiksa daripada mendengar omelan Umi. Pekerjaan saya tak punya hari bernama libur. Setiap saat adalah mengejar berita. Dan kebetulan, asal anda tahu saja koran saya ini Koran kriminal. Setiap hari saya berburu kematian. Semakin mengenaskan kematian, semakin laku koran saya. Saya jadi kerap berdoa agar ada banyak kematian yang mengenaskan. Semakin banyak perampokan semakin subur berita yang saya kumpulkan. Dan ini membuat saya semakin menjadi pendoa yang gila.

Tiga bulan saya jalani dengan semangat pejuang. Bahwa saya suka dengan pekerjaan saya, itu sudah pasti. Tapi waktu yang saya lewati semakin samar. Saya seperti lari di tempat. Setiap saat yang saya lalui adalah sama. Pagi, datang ke kantor, menyiapkan konsep, terburu-buru pergi, mencari berita, wawancarai narasumber, mencatat hal-hal penting, balik ke kantor, menyusun laporan, pulang, tidur. Dan bersiap-siap bangun untuk mengerjakan hal yang sama itu lagi. Hari yang penuh pengulangan. Mungkin sebentar lagi saya gila. Saya tipe pembosan. Tiga bulan lewat dan di depan saya adalah kuburan.

Lelaki tak boleh menyesal. Dan memang inilah hidup yang sesungguhnya bukan ? Saya telah menjadi bagian dari mesin-mesin zaman yang bergerak dan digerakkan uang. Tak ada lagi hati. Sebab hati sudah pergi sejak saya putuskan untuk datang menyongsong hidup baru. Dunia baru.

Harapan itu mungkin tak lagi berwujud srigala. Tapi berwujud kematian. Tak ada yang harus dipertahankan sekarang ini. Sebab hati sudah lama pergi. Tak ada yang harus disesali, sebab cerita tak akan kembali. Inilah harapan yang sesungguhnya. Bisa hidup dan mungkin tertawa dalam jalan buntu yang tak berujung ini.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar

kamu dapat menggunakan tag-tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>