sekedar catatan kegelisahan pribadi saya mengkritisi Aceh yang sekarang

aceh adalah tabu; yang terbalut darah
tulisan hitam berjelaga yang tak punya siklus
cakrawala tak akan terukir disini, dan saya nyaris tak pernah menakjubinya
Aceh kini
setiap kesombongan yang sama acap naik daun, lahir dan beranak-pinak
setiap darah telah mengalahkan ke-tabu-an persada lainnya
aceh punya mellow, punya grunge, punya rock, punya hardcore, punya heavy metal, punya dangdut sebagai gradiansi
tapi kenapa Aceh tak punya rindu?
apakah hujaman bertubi-tubi membunuh jantung,
memancangkan kekalutan, membunuh tiap inchi harapan.
kenapa rindu Aceh meruang dalam batin? kenapa?
diam-diam, sahabat berbisik; “Kata ibu saya, mereka yang mati saat tsunami adalah orang-orang terpilih”
ahk… aku rindu tsunami
mengikrarkan kecemasan yang senantiasa gelisah dan berlari,
mencari kerinduan dalam sebuah kematian
mengembalikan Aceh lewat tiupan kecil sangkakala
Komentar Terakhir